Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juni 2011

gatotkaca


Gatotkaca, terkenal sebagai ksatria perkasa berotot kawat bertulang besi. Ia adalah anak Bima, ibunya bernama Dewi Arimbi. Dalam pewayangan, Gatotkaca adalah seorang raja muda di Pringgadani, yang rakyatnya hampir seluruhnya terdiri atas bangsa raksasa. Negeri ini diwarisinya dari ibunya. Sebelum itu, kakak ibunya yang bernama Arimba, menjadi raja di negeri itu. Sebagai raja muda di Pringgadani, Gatotkaca banyak dibantu oleh patihnya, Brajamusti, adik Arimbi.

Begitu lahir di dunia, Gatotkaca telah membuat huru-hara. Tali pusarnya tidak dapat diputus. Berbagai macam pisau dan senjata tak mampu memotong tali pusar itu. Akhirnya keluarga Pandawa sepakat menugasi Arjuna mencari senjata ampuh untuk keperluan itu. Sementara itu para dewa pun tahu peristiwa itu. Untuk menolongnya Batara Guru mengutus Batara Narada turun ke bumi membawa senjata pemotong tali pusar Gatotkaca. Namun Batara Narada membuat kekeliruan.

Senjata, yang bernama Kunta Wijayandanu, itu bukan diserahkan pada Arjuna, me-lainkan pada Karna yang wajah dan penampilannya mirip Arjuna. Untuk memperoleh senjata pemberian dewa itu Arjuna terpaksa mencoba merebutnya dari tangan Karna. Usahanya ini tak berhasil. Arjuna hanya dapat merebut sarung (warangka) senjata sakti itu. Sedangkan bilah senjata Kunta tetap dilarikan Karna. Untunglah ternyata sarung Kunta itu pun dapat digu-nakan memotong tali pusar Gatotkaca. Namun, begitu tali pusar itu putus, warangka Kunta langsung melesat masuk ke dalam pusar bayi itu.

Setelah tali pusarnya putus, atas izin Bima dan keluarga Pandawa lainnya, Gatotkaca dibawa Batara Narada ke Kahyangan untuk meng-hadapi Kala Sakipu dan Kala Pracona yang mengamuk. Mula-mula Bima dan Dewi Arimbi tidak merelakan anaknya yang baru lahir itu dibawa Narada. Namun, setelah dewa itu menjelaskan bahwa me-nurut ramalan para dewa, Kala Sakipu dan Kala Pracona memang hanya dikalahkan oleh bayi yang di-namakan Tutuka itu, Bima dan Arimbi mengizinkan.

Di kahyangan, Bayi Tutuka langsung ditaruh dihadapan kedua raksasa sakti itu. Kala Sakipu langsung memungut bayi itu dan mengunyahnya, tetapi ternyata Tutuka bukan bayi biasa. Tubuhnya tetap utuh, walaupun raksasa itu mengunyah kuat-kuat.

Karena kesal, bayi itu dibantingnya sekuat tenaga ke tanah. Tutuka pingsan.

Setelah ditinggal pergi kedua raksasa itu, Bayi Tutuka diambil olah Batara Narada, dan dimasukkan ke Kawah Candradimuka.

Di sini Gatotkaca digembleng oleh Empu Batara Anggajali. Setelah penggemblengan selesai, begitu muncul kembali dari Kawah Candradimuka, bayi itu sudah berubah ujud menjadi ksatria muda yang perkasa. Ia mengenakan Caping Basunanda, penutup kepala gaib, yang menyebabkannya tidak akan kehujanan dan tidak pula kepanasan. Ia juga mengenakan terompah Padakacarma yang jika digunakan menendang, musuhnya akan mati.

Para dewa lalu menyuruhnya berkelahi melawan bala tentara raksasa pimpinan Prabu Kala Pracona dan Patih Kala Sakipu lagi. Gatotkaca ternyata sanggup menunaikan tugas itu dengan baik. Kala Pracona dan Kala Sakipu dapat dibunuhnya.

Dalam pewayangan Gatotkaca mempunyai tiga orang istri. Istri pertamanya Dewi Pregiwa, anak Arjuna. Istrinya yang kedua Dewi Sumpani, dan yang ketiga Dewi Suryawati, putri Batara Surya. Dari perkawinan dengan Pergiwa, Gatotkaca mendapat seorang anak bernama Sasikirana. Dengan Dewi Sumpani ia mempunyai anak bernama Arya Jayasumpena. Sedangkan Suryakaca adalah anaknya dari Dewi Suryawati.
Pementasan Wayang orang berlakon Gatotkaca, diambil dari http://tokohwayang.wordpress.com/2009/11/08/gatotkaca-2/

Dalam Baratayuda Gatotkaca diangkat menjadi senapati dan gugur pada hari ke-15 oleh senjata Kunta yang dilemparkan Karna. Senjata Kunta Wijayandanu itu melesat menembus perut Gatotkaca melalui pusarnya dan masuk ke dalam warangkanya. Saat berhadapan dengan Adipati Karna sebenarnya Gatotkaca sudah tahu akan bahaya yang mengancam jiwanya. Karena itu ketika Karna melemparkan senjata Kunta, ia terbang amat tinggi. Namun senjata sakti itu terus saja memburunya, sehingga akhirnya Gatotkaca gugur. Ketika jatuh ke bumi, Gatotkaca berusaha agar jatuh tepat pada tubuh Adipati Karna, tetapi senapati Kurawa itu waspada dan cepat melompat menghindar sehingga yang hancur hanyalah kereta perangnya.

Sebenarnya, sewaktu berhadapan dengan Gatotkaca, Adipati Karna enggan menggunakan senjata Kunta. Ia merencanakan hanya akan menggunakan senjata sakti itu bila nanti berhadapan dengan Arjuna. Namun ketika Prabu Anom Duryudana menyaksikan betapa Gatotkaca telah menimbulkan banyak korban dan kerusakan di pihak Kurawa, ia mendesak agar Karna menggunakan senjata pamungkas itu.

Akibatnya, sesudah Gatotkaca gugur, sebenarnya Karna sudah tidak lagi memiliki senjata sakti yang benar-benar dapat diandalkan.

Sebagai raja muda Pringgadani, Gatotkaca bergelar Prabu Anom Kacanagara. Namun, gelar ini hampir tidak pernah disebut dalam pergelaran wayang. Nama lain Gatotkaca yang lebih terkenal adalah Tutuka, Guritna, Gurubaya, Purbaya, Bimasiwi, Krincingwesi, Arimbiatmaja, dan Bimaputra. Pada Wayang Golek Purwa Sunda, ada lagi nama alias Gatotkaca, yakni Kalananata, Kancingjaya, Trincingwesi, dan Mladangtengah.

Gatotkaca amat sayang pada sepupunya, Abimanyu. Sewaktu Abimanyu hendak menikah dengan Dewi Siti Sundari, Gatotkaca banyak memberikan bantuannya.

Pengangkatan Gatotkaca sebagai penguasa Pringgadani sebenarnya tidak disetujui pamannya, Bra-jadenta. Adik Dewi Arimbi ini menganggap dirinya lebih pantas menduduki jabatan itu, karena ia le-laki, dan anak kandung Prabu Trembaka — raja Pring-gadani terdahulu. Untuk berhasilnya pemberontakan yang dilakukannya Brajadenta minta dukungan Batari Durga dan Kurawa. Namun pemberontakan ini gagal karena Brajadenta ditentang adik-adiknya, terutama Brajamusti. Brajadenta akhirnya mati bersama-sama dengan Brajamusti, ketika mereka berperang tanding. Arwah Brajadenta akhirnya menyusup ke telapak tangan kanan Gatotkaca, sedang arwah Brajamusti di tangan kirinya. Dengan demikian kesaktian Gatotkaca makin bertambah.

Gatotkaca pernah melakukan kesalahan fatal dalam hidupnya. Ia sampai hati membunuh Kalabendana, hanya karena pamannya itu mengatakan pada Dewi Utari bahwa Abimanyu akan menikah lagi dengan Dewi Utari. Padahal Kalabendana adalah pengasuhnya sejak bayi, dan amat menyayangi Gatotkaca.

Menjelang ajalnya, Kalabendana mengatakan bahwa ia tidak mau masuk ke sorga bilamana tidak bersama-sama dengan Gatotkaca. Karena itu, ketika Gatotkaca menghindari senjata Kunta Wijayanda-nu dengan cara terbang setinggi-tingginya, arwah Kalabendana mendorong senjata sakti itu sehingga dapat mencapai pusar putra kesayangan Bima itu.

Beberapa tahun menjelang Baratayuda, Gatotkaca pernah bertindak kurang bijaksana. Ia mengum-pulkan saudara-saudaranya, para putra Pandawa, untuk mengadakan latihan perang di Tegal Kurusetra. Tindakannya ini dilakukan tanpa izin dan pemberita-huan dari para Pandawa.

Baru saja latihan perang itu dimulai, datanglah utusan dari Kerajaan Astina yang dipimpin oleh Dursala, putra Dursasana, yang menuntut agar latihan perang itu segera dihentikan. Gatotkaca dan saudara-saudaranya menolak tuntutan itu. Maka terjadilah perang tanding antara Gatotkaca dengan Dursala.

Pada perang tanding itu Gatotkaca terkena pukulan Aji Gineng yang dimilliki oleh Dursala, sehingga pingsan. Ia segera diamankan oleh saudara-saudaranya, para putra Pandawa. Di tempat yang aman Antareja menyembuhkannya dengan Tirta Amerta yang dimilikinya. Gatotkaca langsung pulih seperti sedia kala. Namun, ia sadar, bahwa kesaktiannya belum bisa mengimbangi Dursala. Selain malu, Gatotkaca saat itu juga tergugah untuk menambah ilmu dan kesaktiannya.

Ia lalu berguru pada Resi Seta, putra Prabu Matswapati dari Wirata. Dari Resi Seta putra Bima itu mendapatkan Aji Narantaka. Setelah menguasai ilmu sakti itu Gatotkaca segera pergi mencari Dursala. Dalam perjalanan ia berjumpa dengan Dewi Sumpani, yang menyatakan keinginannya untuk diperistri. Gatotkaca menjawab, jika mampu menerima hantaman Aji Na rantaka, maka ia bersedia memperistri wanita cantik itu.

Berbagai Lakon yang Melibatkan Gatotkaca

1. Gatotkaca Lair (Lahirnya Gatotkaca)
2. Pregiwa – Pregiwati
3. Gatotkaca Sungging
4. Gatotkaca Sewu
5. Gatotkaca Rebutan Kikis
6. Wahyu Senapati
7. Brajadenta – Brajamusti
8. Kalabendana Lena
9. Gantotkaca Rante
10. Subadra Larung
11. Aji Narantaka
12. Gatotkaca Gugur

Dewi Sumpani ternyata mampu menahan Aji Narantaka. Sesuai janjinya, Gatotkaca lalu memperistri Dewi Sumpani. Dari perkawinan itu mereka kelak mendapat anak yang diberi nama Jayasumpena.

Keinginan Gatotkaca untuk bertemu kembali dengan Dursala akhirnya terlaksana. Dalam pertem-puran yang kedua kalinya ini, dengan Aji Narantaka itu Gatotkaca mengalahkan Dursala.

Meskipun Gatotkaca selalu dilukiskan gagah perkasa, tetapi pecinta wayang pada umumnya tidak menganggapnya memiliki kesaktian yang hebat. Dalam pewayangan, lawan-lawan Gatotkaca biasanya hanyalah raksasa-raksasa biasa, yakni Butaprepat, yang seringkali dibunuhnya dengan cara memuntir kepalanya. Dalam perang melawan raksasa, Gatotkaca selalu bahu membahu dengan Abimanyu. Gatotkaca menyambar dari udara, dan Abimanyu di darat.

Lawan-lawan Gatotkaca yang cukup sakti, hanyalah Prabu Kala Pracona, Patih Kala Sakipu, Boma Narakasura, dan Dursala.

Karena Dewi Arimbi sesungguhnya seorang raseksi (raksasa perempuan), maka dulu Gatotkaca dalam Wayang Kulit Purwa digambarkan berujud raksasa, lengkap dengan taringnya. Namun sejak Susuhunan Paku Buwana II memerintah Kartasura, penampilan peraga wayang Gatotkaca dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa diubah menjadi ksatria tampan dan gagah, dengan wajah mirip Bima. Yang diambil sebagai pola adalah bentuk seni rupa wayang peraga Antareja tetapi diberi praba.

Nama Gatotkaca yang diberikan pada anak Bima ini berarti ‘rambut gelung bundar’. Gatot artinya se-suatu yang berbentuk bundar, sedangkan kata kaca artinya rambut. Nama itu diberikan karena waktu lahir, anak Bima itu telah bergelung rambut bundar di atas kepalanya.

Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta, tokoh Gatotkaca ditampilkan dalam enam wanda, yakni wanda Kilat, Tatit, Guntur, Panglawung, Gelap, dan Dukun. Pada tahun 1960-an Ir. Sukarno, Presiden RI, menambah lagi dengan tiga wanda ciptaannya, yakni Gatotkaca wanda Guntur Geni, Guntur Prahara, dan Guntur Samodra. Pelaksanaan pembuatan wayang Gatotkaca untuk ketiga wanda itu dilakukan oleh Ki Cerma Saweda dari Surakarta.

Mengenai soal wanda ini, ada sedikit perbedaan antara seni kriya Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta dengan gagrak Yogyakarta. Di Surakarta, wanda-wanda Gatotkaca adalah wanda Tatit yang diciptakan oleh raja Kartasura, Paku Buwana II (1655 Saka atau 1733 Masehi). Bentuk badannya tegap, mukanya tidak terlalu tunduk, bahu belakang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kedudukan bahu depan.

Wanda Kilat diciptakan pada zaman pe-merintahan Paku Buwana I, yakni pada tahun 1627 Saka atau 1705 Masehi. Kedudukan bahu depan dan bahu belakang rata, mukanya agak tunduk tetapi tidak setunduk pada wanda Tatit, pinggangnya lebih ram-ping dan posisinya agak maju, sehingga menampilkan kesan gagah.

Wanda Gelap mempunyai kesan bentuk badan yang lebih kekar dan tegap, bahu belakang lebih tinggi dibandingkan dengan bahu depan, sedangkan mukanya lebih tunduk ke bawah dibandingkan dengan wanda Tatit. Kapan dan oleh siapa wanda ini diciptakan, tidak diketahui dengan jelas.

Gatotkaca wanda Gelap merupakan ciptaan keraton terakhir, yakni pada zaman pemerintahan Paku Buwana IV (1788 – 1820) di Surakarta. Badannya kekar dan kokoh, bahu belakang lebih tinggi dibandingkan bahu depan, dengan muka agak datar. Pinggangnya langsing seperti pada wanda Kilat.

Wanda Guntur, yang diciptakan pada tahun 1578 Saka atau 1656 Masehi, merupakan wanda Gatotkaca yang tertua dalam bentuknya yang kita kenal sekarang ini. Dulu, sebelum diciptakan peraga Gatotkaca wan-da Guntur, Wayang Kulit Purwa menggambarkan ben-tuk Gatotkaca sebagai raksasa, dengan tubuh besar, wajah raksasa, lengkap dengan taringnya.

Dengan pertimbangan bahwa wajah seorang anak tentu tidak jauh beda dengan orang tuanya, Sunan Amangkurat Seda Tegal Arum, raja Mataram, memerintahkan para penatah dan penyungging keraton untuk menciptakan bentuk baru peraga Gatotkaca dengan meninggalkan bentuk raksasa sama sekali.

Tubuh dan wajahnya dipantaskan sebagai anak Bima. Maka terciptalah bentuk baru Gatotkaca yang disebut wanda Guntur itu.

Bentuk badan Gatotkaca wanda Guntur menampilkan kesan kokoh, kuat, dengan bahu depan lebih rendah daripada bagu belakang, seolah mencerminkan sifat andap asor. Wajahnya juga memandang ke bawah, tunduk. Pinggangnya tidak seramping pinggang Gatotkaca wanda Kilat. Secara keseluruhan bentuk tubuh wanda Guntur seolah condong ke depan.

Sumber: bharatayudha.multiply.com (Artikel ini diambil dari http://tokohwayang.wordpress.com/2009/11/08/gatotkaca-2/

Selasa, 21 Juni 2011

karakter punakawan








Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.

Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya.

Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan.

Petruk adalah tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa, di pihak keturunan/trah Witaradya. Petruk tidak disebutkan dalam kitab Mahabarata. Jadi jelas bahwa kehadirannya dalam dunia pewayangan merupakan gubahan asli Jawa. Di ranah Pasundan, Petruk lebih dikenal dengan nama Dawala atau Udel.

Gareng adalah punakawan yang berkaki pincang. Hal ini merupakan sebuah sanepa dari sifat Gareng sebagai kawula yang selalu hati-hati dalam bertindak. Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangan yang ciker atau patah. Ini adalah sanepa bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak milik orang lain. Diceritakan bahwa tumit kanannya terkena semacam penyakit bubul.

Ki Lurah Bagong adalah nama salah satu tokoh punakawan dalam kisah pewayangan yang berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tokoh ini dikisahkan sebagai anak bungsu Semar. Dalam pewayangan Sunda juga terdapat tokoh panakawan yang identik dengan Bagong, yaitu Cepot atau Astrajingga. Namun bedanya, menurut versi ini, Cepot adalah anak tertua Semar. Dalam wayang banyumasan Bagong lebih dikenal dengan sebutan Bawor.

Sebagai seorang panakawan yang sifatnya menghibur penonton wayang, tokoh Bagong pun dilukiskan dengan ciri-ciri fisik yang mengundang kelucuan. Tubuhnya bulat, matanya lebar, bibirnya tebal dan terkesan memble.

Gaya bicara Bagong terkesan semaunya sendiri. Dibandingkan dengan ketiga panakawan lainnya, yaitu Semar, Gareng, dan Petruk, maka Bagong adalah sosok yang paling lugu dan kurang mengerti tata krama. Meskipun demikian majikannya tetap bisa memaklumi.

Nah APA pekerjaan Sampingan MEreka ???
Gareng-petruk
kedua punakawan ini punya kerjaan yaitu memutar kincir atau kalau orang jawa bilang "kitiran"

semar-gareng
gareng selain berpasangan dengan petruk,.juga berpasangan dengan semar tapi tugasnya beda,.disini tugas semar dan gareng adalah jualan dawet

Kalau Semar Sendiri Masih Mejeng Di Wonogiri Kota Tepatnya di "Taman Selopadi"-Plinteng Semar

Senin, 13 Juni 2011

makna tersembunyi dari tembang dolanan anak "sluku-sluku" bathok

Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Rama menyang Sala
Oleh-olehe payung motha
Mak jenthit lolo lobah
Wong mati ora obah
Nek obah medeni bocah
Nek urip goleka dhuwit.

Sluku-sluku bathok, Bathoke ela-elo : berasal dari Bahasa Arab : Ghuslu-ghuslu bathnaka, artinya mandikanlah batinmu. Membersihkan batin dulu sebelum membersihkan badan atau raga. Sebab lebih mudah membersihkan badan dibandingkan membersihkan batin atau jiwa.

Bathoke ela-elo : batine La Ilaha Illallah : maksudnya hatinya senantiasa berdzikir kepada Allah, diwaktu senang apalagi susah, dikala menerima nikmat maupun musibah, sebab setiap persitiwa yang dialami manusia, pasti mengandung hikmah.

Si Rama menyang Sala : (sirama/jawa halus)Mandilah, bersucilah, kemudian kerjakanlah shalat. Allah menciptakan Jin dan manusia tidak lain adalah agar supaya menyembah, menghambakan diri kepada-Nya.

Oleh-oleh payung motha : Lailaha Illalah hayyun mauta : dzikir pada Allah mumpung masih hidup, bertaubat sebelum datangnya maut. Manusia hidup di alam dunia tidak sekedar memburu kepentingan duniawi saja, tetapi harus seimbang dengan urusan-urusan ukhrowi.

Mak jentit lolo lobah wong mati ora obah, nek obah medeni bocah, nek urip golekka dhuwit : Kalau sudah sampai saatnya, mati itu sak jenthitan selesai, habis itu tidak bergerak. Walau ketika hidup sebagai raja diraja, sugih banda-bandhu, mukti wibawa, ketika mati tidak ada yang dibawa. Ketika masih hidup supaya berkarya, giat berusaha.

nama anak-anak jawa

Nama-nama anak Jawa

oleh Bambang Gathot pada 08 Mei 2011 jam 10:57

Tembung-tembung basa Jawa kang dianggo jeneng bocah ana sawetara. Perlu dimangerteni tembung-tembung : Rini, Wati, Dyah, Estri, iku ateges wadon. Tembung "SU" tegese linuwih, banget, gedhe. Kayata :
Sukardi = linuwih karyane (nyambut gawe), banget anggone nyambut gawe.
Sukarna(o) = linuwih pangrungune.
Sulistya = linuwih rupane (bagus utawa ayune).

Tembung liyane :

Anom = Mudha , Taruna , Timur.
Arane werna = Seta (putih), Kresna (ireng), Jenar (kuning), Wilis (ijo).
Angin = Bayu (pa), Samirana (pa), Indri (pi)=angin semilir.
Ati = Tyas (pa/pi), Prana (pa), Galih (pa)
Ati-ati = Prayitna (pa).
Awas = Waskitha (pa), Sidik (pa), Wicaksana (pa).
Banyu = Tirta (pa), Sindu (pa), Ranu (pa).
Banteng = Andaka (pa), Handaka (pa)
Bapa = Sudarma (pa).
Bares = Jarwa (pa), Sujarwa, Sujarwanta.
Bekti = Satuti.
Begja = Bagya (pa), Subagya (pa)
Bijak (BI), tindake becik = Wicaksana.
Bunder (wutuh) = Purnama (pa), Purnami (pi)
Dhewe = Pribadi (pa), Priyangga (pa).
Duwe kaluwihan = Tiyasa (pa).
Endah = Peni (pi), Raras (pi), Laras (pi) Bagus (pa), Pekik (pa).
Emas = Rukmi(pi), Rukma (pa).
Gagah prakosa = Jarot.
Gaman = Bajra (pa), Braja (pa).
Gawe = Kardi (pa), Karya (pa), Karti (pi), Yasa (pa).
Gunung = Ardi, Hardi, Giri, Himawan, Parwata, Arga.
Geni = Dahana.
Golek = Pardi (pa), Supardi
Impen = Supena (pa).
Kabecikan = Sudarman, Sudarmi
Kaluhuran = Wibawa.
Katara = Katon (pa), Wuryan (pa/pi), Keksi (pi) Conto : Katon Bagaskara, Wuryanta.
Karep = Kapti (pi).
Kawruh = Guna (pa), Sastra (pa), Widya (pi).
Kayangan = Aribawa (pa).
Kendel = Prawira (pa), Nirbita (pa), Nirbaya (pa), Wira (pa), Wirya (pa), Sudira (pa)
Kembang = Sekar (pi), Puspa (pa/pi), Puspita (pi), Kusuma (pa/pi), Padma (pa), Padmi (pi).
Kondhang = Kuncara (pa), Sumbaga (pa).
Kosong = Bondhan (pa).
Kuping = Karna (pa). Conto : Sukarna(o).
Kuwat = Santosa (pa), Parkosa (pa), Prakoswa (pa), Bagas (pa).
Kekuwatan = Daya (pa).
Laku = Laksana (pa), Sulaksana (pa).
Lampu (pepadhang) = Diyan (pa/pi), Pandam (pa)
Lanang = Priya. Conto : Priya Jatmika = Wong lanang kang anteng.
Landhep = Sutikna (pa), Sutiksna (pa).
Langgeng = Satiti (pi)
Legi = Artati (pa), Hartati (pi), Manis, Sarkara (pa).
Lestari = Widada (pa), Lestari (pi),
Lintang = Lintang, Sudama (pa), Kartika (pi)
Linuwih = Sudibya, Sudigbya.
Manembah = Astuti.
Mega = Mega, Ima (pi), Irawan (pa).
Menang = Jaya (pa), Unggul (pa).
Mula = Marma (pa), Marmi (pi), Sumarma (pa).
Murid = Siswa, Siswaya, Susiswa.
Murid pandhita = Puthut (pa)
Nalar = Budi (pa)
Ndeleng = Mulat (pi)
Nepsu = Bramantya (pa)
Ngati-ati = Yitna, Prayitna, Yatna, Suyatna, Wiweka (pa).
Niyat = Esthi (pi)(uga ateges gajah).
Nuli = Saksana (pa), Tandya (pa), Sutandya.
Pandhita = Sutapa (pa)
Pangkat = Drajat (pa), Sudrajat (pa).
Pahlawan = Wira (pa)
Pathi = Sari (pi)
Peparinge Gusti = Nugraha (pa).
Perang = Yudha,
Pinter = Widagda (pa), Wignya (pa), Gunawan (pa), Nimpuna (pa).
Pinunjul = Sudibya (sekti banget).
Piranti = Pandaya (pa).
Prajurit = Sena (pa)
Premana = Susmana (pa)
Ratu = Aji (pa), Indra (pa)
Rembulan = Wulan, Candra, Sasangka, Sitoresmi, Tengsu.
Sampurna = Paramitha (pi)
Sedhih = Wiyoga (pa).
Sekti = Digdaya (pa), Santika (pa)
Segara = Samodra, Arnawa.
Seneng = Asmara
Sesotya = Retna (pi), Marjan (pa), Kumala (pi), Inten (pi)
Setia (temen) = Setyana (pa), Setyawati (pi)
Sirah = Murda (pa), Murdani (pa).
Slamet = Slamet, Rahayu, Rahajeng, Wilujeng (pi), Yuwana (pa), Raharja (pa), Basuki (pa)(uga ateges ratuning naga), Yana (pa).
Sorot = Sunar (pa/pi), Cahya (pa/pi), Praba (pa/pi), Sunu (uga ateges putra),Dipa (pa), Suteja (pa)
Srengenge = Aditya, Raditya, Baskara, Bagaskara, Diwangkara, Surya (pa), Ari (pa/pi), Haruna (pa), Aruna (pa).
Sugih = Sardana (pa), Sugiyarta, Sugiharta (tegese sugih dhuwit).
Supaya = Supadi (pa), Supadya (pa).
Tapa = Brata (pa), Subrata.
Tanpa cacad = Nirmala (pi).
Tembang = gita , gitaya (pa).
Teguh = Teguh (pa), Kukuh (pa).
Terang = Pramana (pa), Susmana (pa)
Teka = Prapta (pa), Prapti (pi), Suprapta.
Temen = Sayekti (pi), Sanyata (pa), Satya, Setya (pa,pi)
Tuladha = Palupi (pi), Sudarsana (pa), Darsana (pa), Lukita (pa).
Udan = Riris (pi).
Urip = Satmaka (pa)
Hyang = Dewa
Wangi = Arum (pi, Ambar (pi)
Warah = Warsita (pa), Wursita (pa), Wasita (pa)
Waras = Waluya (pa)
Wengi = Ratri (pi).
Widadari = Apsari (pi), Hapsari (pi), Dewi (pi).
Wong = Jana (pa), Sujana (wong kang linuwih)(pa), Sarjana (wong sing pinter)(pa), Nara (pa)


Tembung Wilangan :
Eka = siji.
Dwi = loro.
Tri = telu.
Catur = papat.
Panca = lima.
Sad = enem.
Sapta = pitu.
Astha = wolu.
Nawa = sanga
Dasa = sapuluh.

Jeneng Wayang kang kalumrah kanggo ing jeneng :

Andhini = sapi titihane bathara Guru.
Bima = Sena , Satriya panenggak Pandhawa.
Dananjaya = Satriya panengah Pandhawa (Arjuna).
Gunawan Wibisana = satriya ing Ngalengkadiraja.
Ismaya = Semar.
Kresna = Ratu ing negara Dwarawati.
Pandhu = Ratu ing negara Hastinapura.
Permadi = Satriya panengah Pandhawa (Arjuna).
Prawirayudha = Kendel ing paprangan.
Setyawati = Garwane prabu Narasoma.
Wisnu = ratuning dewa.
Yudisthira = Pambarepe Pandhawa.


Jeneng kang kaprah keprungu :
adyaksa = jeksa, jaksa.
aditya = srengenge.
Agung Laksana = Laku kang gedhe.
ajeng = 1. ayu 2. ratu.
ambar = ganda wangi
Amini Kanthi Puji Rahayu = Diamini kanthi puji slamet.
ananta = tanpa wasana, tanpa pungkasan
andaka = banteng.
andika = 1. kandha, celathu 2. kowe.
anindita = tanpa cacad.
anindya = linuwih, pinunjul.
apsari = widadari.
ardi = gunung.
Ardi Nugraha = Kanugrahan kang gedhene sagunung.
ari = 1. adhi 2. srengenge.
aris = 1. tanpa sulaya 2. sareh.
arya (harya) = sebutane para luhur.
aryana (haryana) = budi, pikiran.
arsaya (harsaya) = bungah, seneng.
arjana (harjana) = njangka, ngudi.
arja = 1. reja 2. slamet.
arka = srengenge.
arnawa = segara.
artati = gula, legi.
Arum Ambarsari = Pathine kembang kang ngganda wangi angambar-ambar.
asmara = sengsem, tresna.
astuti = nyembah, memuji.
badra = 1. kabegjan, becik banget 2. rembulan.
bajra = 1. inten 2. tumbak kang landhepe lima 3. bledheg.
bagas = waras, ora lelaranen.
bagaskara = srengenge.
bakti = pakurmatan , setya tuhu.
banu = sorot, srengenge.
barata = 1. peperangan 2. ratu ing Ayodya.
baskara = srengenge.
basuki = slamet, rahayu.
baswara = sumorot, gumebyar.
besus = 1. sarwa resik, becik 2. seneng macak.
Bambang Susatya = Putrane pandhita kang temen setya.
budi = pikir.
budiman = sugih pamikir, pinter.
bramantya = nepsu banget.
candra = rembulan.
cahya = 1. warnaning sorot 2. kamulyan.
Candrakirana = Bulan yang bersinar.
citra = tulisan, gambaran, wangun.
dahana = geni.
danu = 1. kebo 2. gandhewa.
danuja = linuwih.
danurdara = satriya sekti.
Damarjati Supajar = Sejatine obor (pelita) kang linuwih padhang.
darpita = kendel banget.
darsana = conto.
Daru Suprapta = Cahya kang linuwih tekane.
dewi = dewa wadon, widadari.
dibya = linuwih, pinunjul.
digdaya = menangan, sekti.
diyan = piranti kanggo gawe pepadhang.
dipta = sorot.
dira = kendel, wani.
dirga = dawa.
duhita = putri, endah.
endra = ratu.
estri = wadon.
jaya = 1. menang 2. kuwasa 3. begja.
janardana = bathara Wisnu.
juwita = putri.
jarot = 1. serate asem 2. kengkeng, kuwat.
Gagat Rahina = Bocah kang laire esuk.
garjita = bungah banget.
garini = bojo.
gita = tembang, kidung.
gitaya = tembang, kidung.
Giri Susena = Gegedhuging prajurit kang kaya gunung.
Gunawan Wibisana = Satriya Ngalengka kang ngegungake kautaman.
gurit = 1. tulisan 2. kidung.
himawan = gunung.
Indri = angin semilir.
Inten Susena = Manggalaning prajurit kang kaya sesotya.
iswara = ratu, bendara.
kanya = prawan.
kardi = gawe.
karna = kuping.
Katon Bagaskara = Terlihat bagaikan matahari.
kirana = sorot, cahya.
kumala = inten.
Koswa lalita = prajurit kang endah.
Kusumaatmaja = Putrane pak Kusuma. Kusuma = kembang.
Narasoma = Wong sing rupane kaya rembulan baguse.
laksana = 1. kabegjan 2. laku.
laksita = laku, laku tapa.
laksmana = kabegjan.
laksmi = endah.
laksmiwati = endah banget, begja banget.
lalita = endah, ayu.
lelana = lelungan, mider-mider.
lestari = ajeg ora owah, kaya mau-maune.
listya = ayu, endah, bagus.
lukita = tetembungan, karangan.
manohara = 1. endah, nengsemake 2. memalad sih.
marsudi = ngudi, nggegulang supaya bisa.
marta = lembah manah, sareh.
murdaka = sirah, pemimpin, pengarep.
mursid = utama uripe.
mursita = guneman, kandha.
murcita = guneman, kandha.


nareswari = garwane ratu, ratu putri.
nimpuna = pinter, wasis.
nindya = linuwih, pinunjul.
nirmala = tanpa cacad, suci.
padma = kembang terate.
pajar = padhang.
pambudi = 1. bebuden 2. anggone ngudi.
pandaya = 1. juru misaya iwak 2. piranti.
pandam = 1. pepadhang, diyan.
parameswari = 1. ratu putri 2. garwane ratu.
paramita = kasampurnan.
parman = sih kawelasan.
Pekik Arga Dahana = Gunung geni kang bagus rupane.
pudyastuti = pangaji-aji, panembah.
puji = donga, pangarep-arep supaya ...
Puji Astuti = Donganing panembah.
purnama = rembulan kang wutuh.
purwa = wiwitan.
purwaka = 1. biyen, dhisik 2. bebuka.
puspa = kembang.
puspita = kembang.
Purnamengati = Ati kang wutuh kaya rembulan.
purwita = meguru.
praba = sorot, cahya.
Prabawa = 1. kaluhuran 2. kasekten 3. daya kang metu saka kaluwihan.
Prabandari = cahya sumunar kang nembe ndhadhari.
prabu = 1. bendara, panggedhe 2. ratu.
pradapa = lung enom, pupusing godhong.
pradipta = pepadhang, diyan.
prapta = tekan, tutug, teka.
prasetya = saguh bakal setya tuhu.
prawira = kendel.
priyambada = tembung pangarih-arih.
raden = sebutan para dharahing ratu.
raditya = srengenge.
Rahadyan Yamin = Raden Yamin(arane gelar)
Rahardi Ramelan = Ra (gelar pakurmatan) Gunung kang laire ing wulan Ramadan.
Rahayuningati = Rahayuningtyas =Slamet sajroning ati.
rangga = pangkat saemper asisten wedana.
rara = prawan.
raras = laras.
reni = wadon.
respati = 1. ngresepake ati 2. patut.
retna = 1. inten 2. sing endah dhewe 3. sebutane putri.
Retno Dumilah = mutiara yang bersinar
riris = udan.
sayaka = panah.
samodra = segara.
santi = 1. sareh, tentrem, raharja 2. donga pepuji 3. kekidungan.
sardana = sugih.
sari = 1. asri, endah 2. endah.
sarjana = wong sing pinter.
sarju = condhong atine.
sasangka = rembulan.
sasmita = 1. polatane praen 2. ngalamat, semu.
sasmaya = becik, endah, suci.
satiti = langgeng, tetep, ora pegat.
satmaka = 1. tunggal nyawa 2. urip, nyawa.
satriya = wong luhur, prajurit luhur.
sayaka = panah.
Selo Sumarjan = Selo (pangkat padha karo camat), Sumarjan = Mutiara yang indah.
Setyawati = wong wadon kang temen setya.
sitaresmi = rembulan.
siwi = anak, sengsem, sowan.
sudama = lintang.
sudana = 1. loma banget 2. sugih banget.
sudarma = 1. becik atine 2. bapa.
sudarman = kabecikan.
sudi = kalawan sarjuning ati, gelem ngrahapi.
sudibya = 1. sekti banget, 2. pinunjul, linuwih.
sudira = kendel banget.
sudyana = sudi, tulus.
sujana = wong pinter.
sujita = turune wong linuwih.
Sugeng Suprawata = kaya gunung kang gedhe lan tansah slamet.
Suharta = linuwih artane (sugih).
Sukaca = Kaca (paesan) kang linuwih.
sukarja = luwih bungah.
suka wibawa = bungah-bungah, seneng-seneng.
sukra = Jemuwah.
sulaksana = ngalamat becik, luwih slamet.
sulistya = bagus (ayu) banget.
suluh = obor, dilah, sorot, padhang, pabarisan.
sumantri = patih, mantri utama.
sumirat = kumepyur, sumawur, sumorot, gumebyar, kaya madu.
surastri = widadari.
susetya = setya tuhu.
susmana = premana, terang.
susmaya = teja, luwih, suci.
surti = ngati-ati sarta setiti.
sutapa = pandhita.
suteja = sumunar, sumorot, endah banget.
sutikna = landhep banget.
sutiksna = landhep banget.
suwanda = awak.
suwarna = 1. emas 2. endah banget.
suwignya = pinter banget.
suwita = ngenger, ngabdi.
Sumirat = Bersinar.
Sutiyasa = Nduweni daya kaluwihan kang gedhe banget.
suyasa = omah, gedhong.
suyud = asih, sumarah, lulut marang.
tamara = gamelan.
teguh = kukuh.
timur = enom, nom-noman.
udaya (hudaya) = 1. segara 2. pletheking srengenge 3. munggah, mumbul.
wardaya = ati.
wibawa = kaluhuran, kamulyan.
wicaksana = 1. awas, 2. waskitha, 3. bisa nganggo budine klawan bener.
wida = boreh, pupur, wewangi.
widada = tulus slamet, lestari slamet.
widagda = pinter.
widayaka = 1. wong kang mranata, 2. wong pinter.
widayat = sih pitulunganing Gusti Allah.
widasari = boreh wangi.
widura = pinter, wicaksana.
widuri = bangsane inten.
widya = kawruh, kawicaksanan.
widyastuti = pangabekti, pepuji.
wijaya = menang, sekti.
wijayanti = menang.
wilapa = kidung.
wilujeng = slamet.
winardi = diterangake, ditegesi.
winarna = diterangake, ditegesi, dicritakake.
wira = prajurit, kawasa, sareh, tatas, senapati, prawira, priyayi.
wirya = kendel, kuwasa, mulya.
wiryawan = kendel, kuwasa, mulya.
Wiradi = pahlawan sing luhur.
Wiranta = Muga dadia pahlawan.
wismaya = gumun, ngungun.
wiyata = piwulang.
wiyoga = sedhih.
Wresniwira = Pahlawan bangsa Wresni (Setyaki)
Wulandari = Bulan yang baru terbit.
wursita = gunem, crita, rasa pangrasa.
yatna = ngati-ati.
yekti = 1. temen 2. nyata.
yitna = ngati=ati.
yogi = pandhita.
yuwana = slamet, rahayu.
Yuwana Sudarsana = Conto kang linuwih slamet.

kisah dewa ruci (bimasena)

KISAH DEWA RUCI

Cerita wayang warisan leluhur, tentang AJARAN DEWA RUCI KEPADA ARYA WREKUDARA/ARYA SENA/BIMA ketika masuk ke dasar samudera guna memenuhi tugas gurunya mencari air penghidupan (Tirtamerta), yang disadur dari bentuk kakawin (tembang) oleh Pujangga Surakarta/Solo, Yosodipuro

berjudul:"SERAT DEWARUCI KIDUNG" yang disampaikan dalam bentuk macapat, berbahasa halus dan sesuai rumus-rumus tembang, dengan bahasa Kawi, Sanskerta dan Jawa Kuna.


Seperti apa kisahnya, 
Kurawa dengan nama negeri Amarta, ingin menjerumuskan pihak Pandawa di negeri Astina,(yang sebenarnya adalah:bersaudara) ke dalam kesengsaraan, melalui perantaraan Guru Durna. Sena yang adalah murid guru Durno diberikan ajaran: bahwa dalam mencapai kesempurnaan demi kesucian badan ,maka diharuskan mengikuti perintah sang Guru untuk mencari air suci penghidupan ke hutan Tibrasara. Sena yang telah yakin tidak mungkin teritipu dan dibunuh oleh anjuran Gurunya, tetap berniat pergi mengikuti perintah sang Guru,walaupun sebenarnya ada niat sang Guru Durno untuk mencelakaannya.

Diceritakan Pada saat di negeri Amarta ,Prabu Suyudana/raja Mandaraka/prabu Salya sedang membahas bagaimana caranya Pandawa dapat ditipu secara halus agar musnah, sebelum terjadinya perang Baratayuda, bersama dengan Resi Druna, Adipati Karna, Raden Suwirya, Raden Jayasusena, Raden Rikadurjaya, Adipati dari Sindusena, Jayajatra, Patih Sengkuni, Bisma, Dursasana, dan lain-lainnya termasuk para sentana/pembesar andalan lainnya.

Kemudian Durna memberi petunjuk kepada Sena, bahwa jika ia telah menemukan air suci itu ,maka akan berarti dirinya mencapai kesempurnaan, menonjol diantara sesama makhluk,dilindungi ayah-ibu, mulia, berada dalam triloka,akan hidup kekal adanya. Selanjutnya dikatakan, bahwa letak air suci ada di hutan Tibrasara, dibawah Gandawedana, di gunung Candramuka, di dalam gua. Kemudian setelah ia mohon pamit kepada Druna dan prabu Suyudana, lalu keluar dari istana, untuk mohon pamit, mereka semua tersenyum, membayangkan Sena berhasil ditipu dan akan hancur lebur melawan dua raksasa yang tinggal di gua itu, sebagai rasa optimisnya ,untuk sementara merekamerayakan dengan bersuka-ria, pesta makan minum sepuas-puasnya.

Setelah sampai di gua gunung Candramuka, air yang dicari ternyata tidak ada, lalu gua disekitarnya diobrak-abrik. Raksasa Rukmuka dan Rukmakala yang berada di gua terkejut, marah dan mendatangi Sena. Namun walau telah dijelaskan niat kedatangannya, kedua raksasa itu karena merasa terganggu akibat ulah Sena, tetap saja mengamuk. Terjadi perkelahian .......Namun dalam perkelahian dua Raksaksa tersebut kalah, ditendang, dibanting ke atas batu dan meledak hancur lebur. Kemudian Sena mengamuk dan mengobrak-abrik lagi sampai lelah,dalam hatinya ia bersedih hati dan berfikir bagaimana mendapatkan air suci tersebut.Karena kelelahan,kemudian ia berdiri dibawah pohon beringin.

Tak lama kemudian, Sena mendengar suara tak berwujud : "Wahai cucuku yang sedang bersedih,enkau mencari tidak menjumpai, engkau tidak mendapat bimbingan yang nyata, tentang tempat benda yang kau cari itu, sungguh menderita dirimu". Diceritakan saat Sena sudah pasrah..... suara itu yang ternyata adalah dua dewa, Sang Hyang Endra dan Batara Bayu, yang memberitahu bahwa dua raksasa yang dibunuh Sena,ternyata memang sedang dihukum Hyang Guru. Lalu dikatakan juga agar untuk mencari air kehidupan, Sena di perintahkan agar kembali ke Astina.Perintah inipun dituruti lagi.........

Setibanya di serambi Astina, saat lengkap dihadiri Resi Druna, Bisma, Suyudana, Patih Sangkuni, Sindukala, Surangkala, Kuwirya Rikadurjaya, Jayasusena, lengkap bala Kurawa, dan lain-lainnya, terkejut....! atas kedatangan Sena. Ia memberi laporan tentang perjalannya dan dijawab oleh Sang Druna :bahwa ia sebenarnya hanya diuji, sebab tempat air yang dicari, sebenarnya ada di tengah samudera. Suyudana juga membantu bicara untuk meyakinkan Sena.

Karena tekad yang kuat maka Senapun lalu ia pergi lagi....., yang sebelumnya ia sempat mampir dahulu ke Ngamarta.(tempat para kerabatnya berada)

Sementara itu di Astina keluarga Sena ynag mengetahui tipudaya pihak Kurawa mengirim surat kepada prabu Harimurti/Kresna di Dwarawati, yang dengan tergesa-gesa bersama bala pasukan datang ke Ngamarta. Setelah menerima penjelasan dari Darmaputra, Kresna mengatakan bahwa janganlah Pandawa bersedih, sebab tipu daya para Kurawa akan mendapat balasan dengan jatuhnya bencana dari dewata yang agung.

Ketika sedang asyik berbincang-bincang, datanglah Sena, yang membuat para Pandawa termasuk Pancawala, Sumbadra, Retna Drupadi dan Srikandi, dan lain-lainnya, senang dan akan mengadakan pesta. Namun tidak disangka, karena Sena ternyata melaporkan bahwa ia akan meneruskan pencarian air suci itu, yaitu ke tengah samudera. Nasehat dan tangisan, termasuk tangisan semua sentana laki-laki dan perempuan, tidak membuatnya mundur.

Sena berangkat pergi, tanpa rasa takut keluar masuk hutan, naik turun gunung, yang akhirnya tiba di tepi laut. Sang ombak bergulung-gulung menggempur batu karang bagaikan menyambut dan tampak kasihan kepada yang baru datang, bahwa ia di tipu agar masuk ke dalam samudera, topan datang juga riuh menggelegar, seakan mengatakan bahwa Druna memberi petunjuk sesat dan tidak benar.

Bagi Sena, lebih baik mati dari pada pulang menentang sang Maharesi, walaupun ia tidak mampu masuk ke dalam air, ke dasar samudera. Maka akhirnya ia berpasrah diri, tidak merasa takut, sakit dan mati memang sudah kehendak dewata yang agung, karena sudah menyatakan kesanggupan kepada Druna dan prabu Kurupati, dalam mencari Tirta Kamandanu, masuk ke dalam samudera.

Dengan suka cita ia lama memandang laut dan keindahan isi laut, kesedihan sudah terkikis, menerawang tanpa batas, lalu ia memusatkan perhatian tanpa memikirkan marabahaya, dengan semangat yang menyala-nyala mencebur ke laut, tampak kegembiraannya, dan tak lupa digunakannya ilmu Jalasengara, agar air menyibak.

Alkisah ada naga sebesar segara anakan, pemangsa ikan di laut, wajah liar dan ganas, berbisa sangat mematikan, mulut bagai gua, taring tajam bercahaya, melilit Sena sampai hanya tertinggal lehernya, menyemburkan bisa bagai air hujan. Sena bingung dan mengira cepat mati, tapi saat lelah tak kuasa meronta, ia teringat segera menikamkan kukunya, kuku Pancanaka, menancap di badan naga, darah memancar deras, naga besar itu mati, seisi laut bergembira.


Sementara itu Pandawa bersedih hati dan menangis memohon penuh iba, kepada prabu Kresna. Lalu dikatakan oleh Kresna, bahwa Sena tidak akan meninggal dunia, bahkan mendapatkan pahala dari dewata yang nanti akan datang dengan kesucian, memperoleh cinta kemuliaan dari Hyang Suksma Kawekas, diijinkan berganti diri menjadi batara yang berhasil menatap dengan hening. Para saudaranya tidak perlu sedih dan cemas.

Kembali dikisahkan Sang Wrekudara yang masih di samudera, ia bertemu dengan dewa berambut panjang, seperti anak kecil bermain-main di atas laut, bernama Dewa Ruci. Lalu ia berbicara :"Sena apa kerjamu, apa tujuanmu, tinggal di laut, semua serba tidak ada tak ada yang dapat di makan, tidak ada makanan, dan tidak ada pakaian. Hanya ada daun kering yang tertiup angin, jatuh didepanku, itu yang saya makan". Dikatakan pula :"Wahai Wrekudara, segera datang ke sini, banyak rintangannya, jika tidak mati-matian tentu tak akan dapat sampai di tempat ini, segalanya serba sepi. Tidak terang dan pikiranmu memaksa, dirimu tidak sayang untuk mati, memang benar, disini tidak mungkin ditemukan".

"Kau pun keturunan Sang Hyang Pramesthi, Hyang Girinata, kau keturunan dari Sang Hyang Brama asal dari para raja, ayahmu pun keturunan dari Brama, menyebarkan para raja, ibumu Dewi Kunthi, yang memiliki keturunan, yaitu sang Hyang Wisnu Murti. Hanya berputra tiga dengan ayahmu, Yudistira sebagai anak sulung, yang kedua dirimu, sebagai penengah adalah Dananjaya, yang dua anak lain dari keturunan dengan Madrim, genaplah Pandawa, kedatanganmu disini pun juga atas petunjuk Dhang Hyang Druna untuk mencari air Penghidupan berupa air jernih, karena gurumu yang memberi petunjuk, itulah yang kau laksanakan, maka orang yang bertapa sulit menikmati hidupnya", lanjut Dewa Ruci.

Kemudian dikatakan :"Jangan pergi bila belum jelas maksudnya, jangan makan bila belum tahu rasa yang dimakan, janganlah berpakaian bila belum tahu nama pakaianmu. Kau bisa tahu dari bertanya, dan dengan meniru juga, jadi dengan dilaksanakan, demikian dalam hidup, ada orang bodoh dari gunung akan membeli emas, oleh tukang emas diberi kertas kuning dikira emas mulia. Demikian pula orang berguru, bila belum paham, akan tempat yang harus disembah".

Wrekudara masuk tubuh Dewa Ruci menerima ajaran tentang Kenyataan

"Segeralah kemari Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku", kata Dewa Ruci. Sambil tertawa sena bertanya :"Tuan ini bertubuh kecil, saya bertubuh besar, dari mana jalanku masuk, kelingking pun tidak mungkin masuk".Dewa Ruci tersenyum dan berkata lirih:"besar mana dirimu dengan dunia ini, semua isi dunia, hutan dengan gunung, samudera dengan semua isinya, tak sarat masuk ke dalam tubuhku".

Atas petunjuk Dewa Ruci, Sena masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri. Dan tampaklah laut luas tanpa tepi, langit luas, tak tahu mana utara dan selatan, tidak tahu timur dan barat, bawah dan atas, depan dan belakang. Kemudian, terang, tampaklah Dewa Ruci, memancarkan sinar, dan diketahui lah arah, lalu matahari, nyaman rasa hati.

Ada empat macam benda yang tampak oleh Sena, yaitu hitam, merah kuning dan putih. Lalu berkatalah Dewa Ruci:"Yang pertama kau lihat cahaya, menyala tidak tahu namanya, Pancamaya itu, sesungguhnya ada di dalam hatimu, yang memimpin dirimu, maksudnya hati, disebut muka sifat, yang menuntun kepada sifat lebih, merupakan hakikat sifat itu sendiri. Lekas pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu jangan ragu, untuk hati tinggal, mata hati itulah, menandai pada hakikatmu, sedangkan yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu adalah penghalang hati.

Yang hitam kerjanya marah terhadap segala hal, murka, yang menghalangi dan menutupi tindakan yang baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang baik, segala keinginan keluar dari situ, panas hati, menutupi hati yang sadar kepada kewaspadaan. Yang kuning hanya suka merusak. Sedangkan yang putih berarti nyata, hati yang tenang suci tanpa berpikiran ini dan itu, perwira dalam kedamaian. Sehingga hitam, merah dan kuning adalah penghalang pikiran dan kehendak yang abadi, persatuan Suksma Mulia.

Lalu Wrekudara melihat, cahaya memancar berkilat, berpelangi melengkung, bentuk zat yang dicari, apakah gerangan itu ?! Menurut Dewa Ruci, itu bukan yang dicari (air suci), yang dilihat itu yang tampak berkilat cahayanya, memancar bernyala-nyala, yang menguasai segala hal, tanpa bentuk dan tanpa warna, tidak berwujud dan tidak tampak, tanpa tempat tinggal, hanya terdapat pada orang-orang yang awas, hanya berupa firasat di dunia ini, dipegang tidak dapat, adalah Pramana, yang menyatu dengan diri tetapi tidak ikut merasakan gembira dan prihatin, bertempat tinggal di tubuh, tidak ikut makan dan minum, tidak ikut merasakan sakit dan menderita, jika berpisah dari tempatnya, raga yang tinggal, badan tanpa daya. Itulah yang mampu merasakan penderitaannya, dihidupi oleh suksma, ialah yang berhak menikmati hidup, mengakui rahasia zat.

Kehidupan Pramana dihidupi oleh suksma yang menguasai segalanya, Pramana bila mati ikut lesu, namun bila hilang, kehidupan suksma ada. Sirna itulah yang ditemui, kehidupan suksma yang sesungguhnya, Pramana Anresandani.

Jika ingin mempelajari dan sudah didapatkan, jangan punya kegemaran, bersungguh-sungguh dan waspada dalam segala tingkah laku, jangan bicara gaduh, jangan bicarakan hal ini secara sembunyi-sembunyi, tapi lekaslah mengalah jika berselisih, jangan memanjakan diri, jangan lekat dengan nafsu kehidupan tapi kuasailah.

Tentang keinginan untuk mati agar tidak mengantuk dan tidak lapar, tidak mengalami hambatan dan kesulitan, tidak sakit, hanya enak dan bermanfaat, peganglah dalam pemusatan pikiran, disimpan dalam buana, keberadaannya melekat pada diri, menyatu padu dan sudah menjadi kawan akrab.

Sedangkan Suksma Sejati, ada pada diri manusia, tak dapat dipisahkan, tak berbeda dengan kedatangannya waktu dahulu, menyatu dengan kesejahteraan dunia, mendapat anugerah yang benar, persatuan manusia/kawula dan pencipta/Gusti. Manusia bagaikan wayang, Dalang yang memainkan segala gerak gerik dan berkuasa antara perpaduan kehendak, dunia merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan panggungnya.

Penerima ajaran dan nasehat ini tidak boleh menyombongkan diri, hayati dengan sungguh-sungguh, karena nasehat merupakan benih. Namun jika ditemui ajaran misalnya kacang kedelai disebar di bebatuan tanpa tanah tentu tidak akan dapat tumbuh, maka jika manusia bijaksana, tinggalkan dan hilangkan, agar menjadi jelas penglihatan sukma, rupa dan suara.

Hyang Luhur menjadi badan Sukma Jernih, segala tingkah laku akan menjadi satu, sudah menjadi diri sendiri, dimana setiap gerak tentu juga merupakan kehendak manusia, terkabul itu namanya, akan segala keinginan, semua sudah ada pada manusia, semua jagad ini karena diri manusia, dalam segala janji janganlah ingkar.

Jika sudah paham akan segala tanggung jawab, rahasiakan dan tutupilah. Yang terbaik, untuk disini dan untuk disana juga, bagaikan mati di dalam hidup, bagaikan hidup dalam mati, hidup abadi selamanya, yang mati itu juga. Badan hanya sekedar melaksanakan secara lahir, yaitu yang menuju pada nafsu.

Wrekudara setelah mendengar perkataan Dewa Ruci, hatinya terang benderang, menerima dengan suka hati, dalam hati mengharap mendapatkan anugerah wahyu sesungguhnya. Dan kemudian dikatakan oleh Dewa Ruci :"Sena ketahuilah olehmu, yang kau kerjakan, tidak ada ilmu yang didatangkan, semua sudah kau kuasai, tak ada lagi yang dicari, kesaktian, kepandaian dan keperkasaan, karena kesungguhan hati ialah dalam cara melaksanakan.

Dewa Ruci selesai menyampaikan ajarannya, Wrekudara tidak bingung dan semua sudah dipahami, lalu kembali ke alam kemanusiaan, gembira hatinya, hilanglah kekalutan hatinya, dan Dewa Ruci telah sirna dari mata,

Wrekudara lalu mengingat, banyak yang didengarnya tentang tingkah para Pertapa yang berpikiran salah, mengira sudah benar, akhirnya tak berdaya, dililit oleh penerapannya, seperti mengharapkan kemuliaan, namun akhirnya tersesat dan terjerumus.

Bertapa tanpa ilmu, tentu tidak akan berhasil, kematian seolah dipaksakan, melalui kepertapaannya, mengira dapat mencapai kesempurnaan dengan cara bertapa tanpa petunjuk, tanpa pedoman berguru, mengosongkanan pikiran, belum tentu akan mendapatkan petunjuk yang nyata. Tingkah seenaknya, bertapa dengan merusak tubuh dalam mencapai kamuksan, bahkan gagallah bertapanya itu.

Guru yang benar, mengangkat murid/cantrik, jika memberi ajaran tidak jauh tempat duduknya, cantrik sebagai sahabatnya, lepas dari pemikiran batinnya, mengajarkan wahyu yang diperoleh. Inilah keutamaan bagi keduanya.

Tingkah manusia hidup usahakan dapat seperti wayang yang dimainkan di atas panggung, di balik layar ia digerak-gerakkan, banyak hiasan yang dipasang, berlampu panggung matahari dan rembulan, dengan layarnya alam yang sepi, yang melihat adalah pikiran, bumi sebagai tempat berpijak, wayang tegak ditopang orang yang menyaksikan, gerak dan diamnya dimainkan oleh Dalang, disuarakan bila harus berkata-kata, bahwa itu dari Dalang yang berada dibalik layar, bagaikan api dalam kayu, berderit oleh tiupan angin, kayu hangus mengeluarkan asap, sebentar kemudian mengeluarkan api yang berasal dari kayu, ketahuilah asal mulanya, semuanya yang tergetar, oleh perlindungan jati manusia, yang yang kemudian sebagai rahasia.

Kembali ke Negeri Ngamarta

Tekad yang sudah sempurna, dengan penuh semangat, Raden Arya Wrekudara kemudian pulang dan tiba ke negerinya, Ngamarta, tak berpaling hatinya, tidak asing bagi dirinya, sewujud dan sejiwa, dalam kenyataan ditutupi dan dirahasiakan, dilaksanakan untuk memenuhi kesatriaannya. Permulaan jagad raya, kelahiran batin ini, memang tidak kelihatan, yang bagaikan sudah menyatu, seumpama suatu bentukan, itulah perjalanannya.

Bersamaan dengan kedatangan Sena, di Ngamarta sedang berkumpul para saudaranya bersama Sang Prabu Kresna, yang sedang membicarakan kepergian Sena, cara masuk dasar samudera. Maka disambutlah ia, dan saat ditanya oleh Prabu Yudistira mengenai perjalanan tugasnya, ia menjawab bahwa perjalanannya itu dicurangi, ada dewa yang memberi tahu kepadanya, bahwa di lautan itu sepi,tidak ada air penghidupan. Gembira mendengar itu, lalu Kresna berkata :"Adikku ketahuilah nanti, jangan lupa segala sesuatu yang sudah terjadi ini".

Sampai disini cerita singkat tentang Dewa Ruci.

MAKNA AJARAN DEWA RUCI

Orang Jawa menganggap cerita wayang merupakan cermin dari pada kehidupannya.

Dewa Ruci yang merupakan cerita asli wayang Jawa memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan harmonis antara Kawula dan Gusti, yang diperagakan oleh Bima atau Aria Werkudara dan Dewa Ruci.

Pencarian air suci Prawitasari

Guru Durna memberitahukan Bima untuk menemukan air suci Prawitasari. Prawita dari asal kata Pawita artinya bersih, suci; sari artinya inti. Jadi Prawitasari pengertiannya adalah inti atau sari dari pada ilmu suci.

Hutan Tikbrasara dan Gunung Reksamuka

Air suci itu dikatakan berada dihutan Tikbrasara, dilereng Gunung Reksamuka. Tikbra artinya rasa prihatin; sara berarti tajamnya pisau, ini melambangkan pelajaran untuk mencapai lendeping cipta (tajamnya cipta). Reksa berarti mamalihara atau mengurusi; muka adalah wajah, jadi yang dimaksud dengan Reksamuka dapat diartikan: mencapai sari ilmu sejati melalui samadi.

1. Sebelum melakukan samadi orang harus membersihkan atau menyucikan badan dan jiwanya dengan air.

2. Pada waktu samadi dia harus memusatkan ciptanya dengan fokus pandangan kepada pucuk hidung. Terminologi mistis yang dipakai adalah mendaki gunung Tursina, Tur berarti gunung, sina berarti tempat artinya tempat yang tinggi.

Pandangan atau paningal sangat penting pada saat samadi. Seseorang yang mendapatkan restu dzat yang suci, dia bisa melihat kenyataan antara lain melalui cahaya atau sinar yang datang kepadanya waktu samadi. Dalam cerita wayang digambarkan bahwasanya Resi Manukmanasa dan Bengawan Sakutrem bisa pergi ketempat suci melalui cahaya suci.

Raksasa Rukmuka dan Rukmakala

Di hutan, Bima diserang oleh dua raksasa yaitu Rukmuka dan Rukmala. Dalam pertempuran yang hebat Bima berhasil membunuh keduanya, ini berarti Bima berhasil menyingkirkan halangan untuk mencapai tujuan supaya samadinya berhasil.

Rukmuka : Ruk berarti rusak, ini melambangkan hambatan yang berasal dari kemewahan makanan yang enak (kemukten).

Rukmakala : Rukma berarti emas, kala adalha bahaya, menggambarkan halangan yang datang dari kemewahan kekayaan material antara lain: pakaian, perhiasan seperti emas permata dan lain-lain (kamulyan)

Bima tidak akan mungkin melaksanakan samadinya dengan sempurna yang ditujukan kepada kesucian apabila pikirannya masih dipenuhi oleh kamukten dan kamulyan dalam kehidupan, karena kamukten dan kamulyan akan menutupi ciptanya yang jernih, terbunuhnya dua raksasa tersebut dengan gamblang menjelaskan bahwa Bima bisa menghapus halangan-halangan tersebut.

Samudra dan Ular

Bima akhirnya tahu bahwa air suci itu tidak ada di hutan , tetapi sebenarnya berada didasar samudra. Tanpa ragu-ragu sedikitpun dia menuju ke samudra. Ingatlah kepada perkataan Samudra Pangaksama yang berarti orang yang baik semestinya memiliki hati seperti luasnya samudra, yang dengan mudah akan memaafkan kesalahan orang lain.

Ular adalah simbol dari kejahatan. Bima membunuh ular tersebut dalam satu pertarungan yang seru. Disini menggambarkan bahwa dalam pencarian untuk mendapatkan kenyataan sejati, tidaklah cukup bagi Bima hanya mengesampingkan kamukten dan kamulyan, dia harus juga menghilangkan kejahatan didalam hatinya. Untuk itu dia harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

1. Rila: dia tidak susah apabila kekayaannya berkurang dan tidak iri kepada orang lain.

2. Legawa : harus selalu bersikap baik dan benar.

3. Nrima : bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar.

4. Anoraga : rendah hati, dan apabila ada orang yang berbuat jahat kepadanya, dia tidak akan membalas, tetap sabar.

5. Eling : tahu mana yang benar dan salah dan selalu akan berpihak kepada kebaikan dan kebenaran.

6. Santosa : selalu beraa dijalan yang benar, tidak pernah berhenti untuk berbuat yang benar antara lain : melakukan samadi. Selalu waspada untuk menghindari perbuatan jahat.

7. Gembira : bukan berarti senang karena bisa melaksanakan kehendak atau napsunya, tetapi merasa tentram melupakan kekecewaan dari pada kesalahan-kesalahan dari kerugian yang terjadi pada masa lalu.

8. Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat baik demi kepentingan semua pihak.

9. Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau sakit diobati.

10. Marsudi kawruh : selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar.

11. Samadi.

12. Ngurang-ngurangi: dengan antara lain makan pada waktu sudah lapar, makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak: minum secukupnya pada waktu sudah haus dan tidak perlu harus memilih minuman yang lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak perlu harus tidur dikasur yang tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah.

Pertemuan dengan Dewa Suksma Ruci

Sesudah Bima mebunuh ular dengan menggunakan kuku Pancanaka, Bima bertemu dengan Dewa kecil yaitu Dewa Suksma Ruci yang rupanya persis seperti dia. Bima memasuki raga Dewa Suksma Ruci melalui telinganya yang sebelah kiri. Didalam, Bima bisa melihat dengan jelas seluruh jagad dan juga melihat dewa kecil tersebut.

Pelajaran spiritual dari pertemuan ini adalah :

Bima bermeditasi dengan benar, menutup kedua matanya, mengatur pernapasannya, memusatkan perhatiannya dengan cipta hening dan rasa hening.

Kedatangan dari dewa Suksma Ruci adalah pertanda suci, diterimanya samadi Bima yaitu bersatunya kawula dan Gusti.

Didalam paningal (pandangan didalam) Bima bisa melihat segalanya segalanya terbuka untuknya (Tinarbuka) jelas dan tidak ada rahasia lagi. Bima telah menerima pelajaran terpenting dalam hidupnya yaitu bahwa dalam dirinya yang terdalam, dia adalah satu dengan yang suci, tak terpisahkan. Dia telah mencapai kasunyatan sejati. Pengalaman ini dalam istilah spiritual disebut “mati dalam hidup” dan juga disebut “hidup dalam mati”. Bima tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Mula-mula di tidak mau pergi tetapi kemudian dia sadar bahwa dia harus tetap melaksanakan pekerjaan dan kewajibannya, ketemu keluarganya dan lain-lain.

Arti simbolis pakaian dan perhiasan Bima

Bima mengenakan pakaian dan perhiasan yang dipakai oleh orang yang telah mencapai kasunytan-kenyataan sejati. Gelang Candrakirana dikenakan pada lengan kiri dan kanannya. Candra artinya bulan, kirana artinya sinar. Bima yang sudah tinarbuka, sudah menguasai sinar suci yang terang yang terdapat didalam paningal.

Batik poleng : kain batik yang mempunyai 4 warna yaitu; merah, hitam, kuning dan putih. Yang merupakan simbol nafsu, amarah, alumah, supiah dan mutmainah. Disini menggambarkan bahwa Bima sudah mampu untuk mengendalikan nafsunya.

Tusuk konde besar dari kayu asem

Kata asem menunjukkan sengsem artinya tertarik, Bima hanya tertarik kepada laku untuk kesempurnaan hidup, dia tidak tertarik kepada kekeyaan duniawi.

Tanda emas diantara mata.

Artiya Bima melaksanakan samadinya secara teratur dan mantap.

Kuku Pancanaka

Bima mengepalkan tinjunya dari kedua tangannya.

Melambangkan :

1. Dia telah memegang dengan kuat ilmu sejati.

2. Persatuan orang-orang yang bermoral baik adalah lebih kuat, dari persatuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, meskipun jumlah orang yang bermoral baik itu kalah banyak.

Contohnya lima pandawa bisa mengalahkan seratus korawa. Kuku pancanaka menunjukkan magis dan wibawa seseorang yang telah mencapai ilmu sejati.

Selasa, 29 Maret 2011

Laki-laki Dibalik 'Iwak Ingkung'

ostingan ini saya buat bukan bertujuan untuk menyampaikan ajaran kejawen ataupun menggurui siapapun. Apalagi mencampur adukkan antara ajaran agama dan 'ular-ular' sesepuh kejawen. Justru menjembatani para pendakwah di tanah jawa dengan masyarakat yang masih memegang teguh budaya Jawa. Setidaknya meniru kiprah dakwah para wali dan mursyid yang telah sukses berdakwah di tanah Jawa.

Iwak ingkung.
 Saya ingat pertama kali mendapatkan wejangan menjadi seorang anak laki-laki oleh Bapak. Bapak yang masih memegang tegung kearifan lokal kejawen, memahami Islam dari sisi Jawanya. Mengajarkan nilai-nilai Islami melalui pitutur Kejawen. Tidak mencampuradukkan ajaran mistik kejawen tapi demikianlah para sesepuh dahulu berdakwah mengajarkan keluhuran Islam dengan menyelipkannya dalam kearifan lokal Jawa secara halus hingga masyarakat Jawa dengan suka cita menerima Islam sebagai ajaran yang selaras dengan jiwa dan pemikiran mereka.

Maka momentum sunat, pertanda seorang anak laki-laki siap memasuki masa baligh, bapak mengajarkan ilmu lelaki melalui 'iwak ingkung'. Acara selamatan sebagai tanda syukur pada Allah karena telah memberikan karunianya hingga saya masuk akhil balighpun digelar. Berbagai 'ubarampe' hidangan selamatan yang akan disedahkan dalam bentuk kenduri dipersiapkan . Tak terkecuali menu 'ingkung'.

Ayam jago, kebetulan Bapak memilih ayam jago kesayanganku untuk disembelih. Beliau mensyaratkan harus saya yang menyembelih. Mengajarkan pada anak laki-lakinya untuk berani, tegas, tatag tabah dan tega, tega melihat darah tertumpah. Menjadi lelaki jantan tidak boleh cengeng meski harus membunuh binatang kesayangannya sendiri, kalau memang memiliki kemaslahatan untuk disembelih.

Setelah disembelih lalu dibersihkan jeroannya. Kemudian saya serahkan semua organ dalam ayam jago tersebut berikut ayamnya tanpa dipotong-potong, hanya dibelah dadanya, kepada ibu-ibu untuk dimasak. Rupanya ditangan ibu-ibu jeroan ayam jago tadi dimasukkan lagi ketubuh ayam lalu diikat hingga membentuk ayam yang bersujud.

Setelah matang dan dihidangkan di atas meja, Bapak memulai wejangan berikutnya. Ayam jago jeroannya dibersihkan dari kotoran sebagai simbol bahwa seorang laki-laki harus memiliki kebersihan lahir batin. Bersih di dalam dan di luar bila ingin menyembah, mengucap syukur pada Tuhan. Bersyukur juga harus ikhlas lahir batin.
Mengapa harus diikat? Bapak tertawa, lalu bercerita tentang bagaimana watak ayam jago. Ayam jago memiliki sifat angkuh, merasa paling gagah dan paling cakep. Bahkan ayam jago juga sok jagoan, merasa paling jago bertarung, mudah marah dan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan. Lihat saja bagaimana ayam jago berjalan dengan membusungkan dadanya, tak mau akur dengan ayam jago lain, 'jegrak' jambul dan sayapnya bila berhadapan dengan jago lain yang juga sok jagoan tak mau tunduk dihadapannya.

Selain sangat membanggakan tajinya ayam jago juga salah satu makhluk yang doyan kawin. Perhatikan bagaimana ayam jago hendak mendapatkan betina. Ayam jago akan pura-pura sok dekat sok perhatian, pura-pura nunjukin ceceran makan di tanah agar betina mendekat. Setelah betina terlihat akrab dan mau mendekat buru si jantan langsung nangkring diatas tubuh betina melepas syahwatnya. Setelah itu, masih pura-pura dekat sebentar kemudian ditinggalkan mencari betina lain. Parahnya ada juga jago yang maksain kehendak mengejar betina hingga lari terbirit-biri, setelah nangkring lagi-lagi sok ngasih perhatian sok romantis lalu ditinggal begitu saja.
Ayam jago adalah gambaran makhluk egois,sombong,kasar,pengumbar hawa nafsu,buaya darat, tak bertanggung jawab. Oleh karenanya ketika menjadi ingkung akan diikat seluruh tubuhnya dan dibersihkan luar dalam. Diikat 'njungkung' seperti orang sujud sebagai simbol  cita-cita manunggal. Diwujudkan dengan selalu n'jungkung (bersujud), dan diperoleh dengan selalu manekung (muhasabah, khalwat, i'tikaf, atau tahannuts).


Saya berdecak kagum dengan sepotong wejangan kearifan para leluhur pendakwah Islam jaman para wali yang mengubah budaya pagan sinkrit penyembah roh-roh nenek moyang dan mistik jaman pra Islam menjadi sarana dakwah yang humanis. Sekaligus rasa kagum dan hormat pada Bapak yang bersedia menyampaikan hal itu pada saya, karena jarang jaman sekarang orang tua sekalipun yang paham dengan nilai filosofi itu.

Bapak berharap agar sifat buruk ayam jago dibuang jauh-jauh , memaksa diri sendiri , mengikat hawa nafsu hewani agar senantiasa manembah , sumeleh, pasrah, rendah hati, merontokkan bulu-bulu kebanggaan,membersihkan jiwa dan raga. Itulah laki-laki sejati, laki-laki yang mampu menahan diri mengikat hawa nafsu membersihkan jiwa raga , njungkung merendahkan diri. InsyaAllah Bapak...

bimomukti the snowman,seoul.

Minggu, 12 September 2010

Lebaran dalam kenangan.



Sudah tradisi, setiap lebaran, orang-orang terutama kaum muslimin berusaha untuk saling mengunjungi, melakukan silaturahmi. Saling meminta maaf dan saling halal-menghalalkan. Bahkan dari tempat-tempat jauh orang datang untuk keperluan ini. Tradisi mudik yang begitu luar biasa itu begitu indah seingatku, karena bertahun saya melewatkan lebaran bersama 'sanak kadang' di kampung.

Di dusun saya yang mungil,khususnya dalam keluarga besar kami mereka yang berbeda agama, berbeda organisasi, berbeda partai, sampai yang berbeda hari raya, bertemu dalam majlis lebaran yang penuh rahmat-persaudaraan. Luar biasa...Lebaran bagi trah keluarga besar kami bukanlah sekedar milik umat Islam tapi sudah menjadi milik bangsa, milik bersama, milik keluarga

Tak ada yang menyangkal bila dalam trah kami memiliki anggota keluarga pemeluk Nasrani yang taat dari sekedar aktivis gereja, pengurus gereja bahkan pendeta. Namun setiap lebaran Pak Lik dan Bu Lik meski memiliki ketaatan terhadap agamanya yang nyaris sempurna, selalu membukakan pintunya buat ponakan dan cucunya untuk datang bersilaturahmi lebaran. Tak lupa segala hidangan lebaran pasti tersuguh di meja.

Saya masih ingat ketika (alm)Pak Lik Parlan,yang juga pengurus GKJ selalu menunggu-nunggu kedatanganku tiap lebaran tiba.
"Pokoknya bila lebaran ini kamu tak datang dan sungkem padaku niscaya segera aku tutup rumahku ini untukmu, selamanya!",ujarnya suatu ketika.
Rupanya beliau selalu menungguku untuk datang dan merayakan lebaran di rumahnya. Maka ketika saya datang untaian nasehat dan pitutur indah akan meluncur dari mulutnya,dan itu yang selalu saya tunggu.

Tentu saya akan selalu ingat nasehat beliau untuk tetap menjalin silaturahmi meski kelak orang tua kami satu persatu wafat,
"Kami para orang tua bersaudara termasuk bapakmu mungkin memiliki sedikit konflik pribadi tapi saya tak kan pernah mewariskan konflik antar orang tua pada kalian."
Maka di sepanjang tahun kesibukan masing-masing,lebaran adalah kunci penentu masih hidupnya tali silaturahmi diantara keluarga besar kami. Minimal setahun sekali saling berkunjung.

Salah seorang Pak Lik yang lain,juga pengurus gereja dan kepala sekolah yayasan Kristen, Pak Lik Supadiyono(alm) bahkan selalu membawa anak, menantu dan cucunya untuk silaturahmi ke rumah orang tua kami saat lebaran. "Wajib hukumnya!", katanya sambil terkekeh. Alhasil hingga kinipun meski beliau sudah wafat anak-anaknya yang di Jogja meskipun seorang pendeta Kristen Protestan selalu hadir nomer wahid di rumah dan sungkem pada Simbok, Bu Dhe-nya.

Keindahan itulah yang selalu membayang bayang tiap lebaran tiba, kangen, dan ingin segera berhambur membalas silaturahmi mereka. Saya yakin sampai kapanpun di rumah mereka tiap lebaran pasti akan terhidang camilan lebaran dan suguhan minuman yang menyegarkan.

Saya hanya berharap tradisi lebaran ini akan tetap menjadi milik bangsa sebagaimana peci dan sarung yang bukan lagi milik umat islam, tapi bangsa Indonesia. Barangkali kami bisa menular-ratakan kondisi dan suasana keakraban dan toleransi itu ke wilayah yang lebih luas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan cara mengawetkan cinta kasih dan semangat silaturahmi model Pak Lik kami, minimal pada keturunan kami kelak.

Mohon maaf lahir batin, minal aidin wal faidzin .

bimomukti the snowman,

Senin, 16 Agustus 2010

Kunang Kunang



Melongok hamparan sawah di seberang pabrik yang penuh kerlip kunang kunang kembali mengingatkan masa masa kecil saya di dusun. Rumah kami yang 'mewah' mepet sawah, tepatnya dibelakang dapur terhampar sawah yang luas. Di halaman belakang rumah yang dirindangi rumpun bambu sering saya habiskan malam hanya untuk melihat dan menangkap kunang kunang lalu dimasukkan ke dalam plastik kecil ,di kegelapan nyala mereka cukup untuk menerangi rimbunnyanya pepohonan bambu.

Saya dusun, lahir dan besar di dusun, dan itulah sebabnya, saya akan teringat masa kecil tiapkali mendengar kata “kunang-kunang”. Kunang-kunang adalah bagian tak terpisahkan dari masa kecil saya, sama pentingnya dengan ketapel, bedil-bedilan dari pelepah pohon pisang, atau layang-layang yang benangnya direndam dalam lumpur yang lebih dulu ditaburi pecahan beling yang dihaluskan.

Bicara kunang kunang selalu menyeret nyeret kenangan bersama simbok,ibu yang selalu memberi petuah tak selayaknya seorang guru, hanya bicara perumpamaan iseng tapi sangat mendalam. Dan kelak akan sangat mempengaruhi perjalanan hidup saya. Lihatlah bagaimana beliau bicara tentang kunang kunang, yang hingga kini begitu membekas dan terpatri dalam hati;

“Kunang-kunang itu berbicara dengan teman-temannya melalui cahaya yang berkelip-kelip. Bahasa kunang-kunang itu bahasa cahaya,” demikian kurang lebih ibu menerangkan, mengawali hikayat kunang kunang. Hanya kunang kunang yang bicara dengan bahasa cahaya bahkan malaikatpun tidak, meski mereka terbuat dari nur,cahaya.

Cahaya kunang kunang adalah juga bahasa cinta. Kunang-kunang jantan menggunakan cahaya tubuhnya untuk memikat kunang-kunang betina. Kunang-kunang jantan mengatur pendar cahaya tubuhnya dengan intensitas tertentu sebagai pernyataan cinta pada kunang-kunang betina yang bersembunyi di balik rimbun semak dan daun-daun. Kunang-kunang jantan yang mampu memendarkan cahaya lebih kuat dan lebih lama punya peluang lebih besar untuk memikat kunang-kunang betina mana pun yang diinginkannya.

Belakangan saya tahu,Mata manusia mungkin tak cukup mampu membedakan pendar cahaya kunang-kunang yang satu dengan kunang-kunang yang lain. Setiap kunang-kunang punya struktur kode pencahayaannya sendiri-sendiri. Keunikan kode pencahayaan ini bukan hanya berlaku pada setiap spesies kunang-kunang, tapi juga pada masing-masing kunang-kunang. Ia tak pernah berkurang keindahannya hanya karena kita tak mengerti artinya.

Kunang-kunang yang memendarkan cahaya menjadi metafora dari hasrat kuat untuk terus mencoba mengatasi kegelapan yang begitu perkasa. Ini pernyataan sikap hidup yang enggan menyerah pada kerajaan gelap.

Cahaya kunang-kunang memang kecil, dan itulah sebabnya ia disebut kelip. Tapi, bisa jadi, itu juga pelajaran tentang kerendahhatian. “Ya, cahaya kami memang redup dibandingkan bulan atau matahari, tapi kami memang tidak berambisi menerangi jagat raya yang gelap saat malam. Kami sudah cukup berbahagia dengan membagi cahaya bagi diri kami sendiri. Jika kelip cahaya kami bisa membantu makhluk lain, kami menganggapnya sebagai berkah.”

Ya, kunang kunang atau kita mungkin, memang tak cukup perkasa untuk menaklukkan problematika hidup yang begitu pelik. Persoalan masalah yang datang silih berganti bak gelapnya malam. Bagaimanapun,meski tak mampu membuat malam menjadi hingar bingar setidaknya kita telah memilki hasrat kuat untuk menembus pekatnya rimba hidup.

Setidaknya saya yakin esok fajar pasti akan menyingsing, sang suryakala akan menggulung cengkeraman kegelapan. Duka,nestapa, kesulitan hidup mahalnya harga, sulitnya mencari penghidupan, seretnya jodoh, kemaksiatan, bobroknya moral pejabat dan aneka problematika hidup yang kini kita alami ada saatnya harus menyingkir. Berganti dengan penghidupan yang lebih baik. Bagaimanapun roda dunia pasti masih berputar

“Kehidupan itu,” kata Crowfoot, “seperti cahaya kunang-kunang di tengah malam yang gulita, seperti helaan napas kerbau di tengah musim dingin yang menusuk, atau seperti bayangan kecil yang melintas di atas rumput dan lenyap saat matahari susut.”

BIMOMUKTI THE SNOWMAN.

Kamis, 05 Agustus 2010

Aku, Biksu Dan Gajah

Seorang teman yang menghabiskan masa mudanya dengan belajar teologi menjelaskan apa yang sudah ia dapatkan selama belajar dalam satu kalimat yang ringkas sekaligus metaforik: belajar teologi adalah mengejar yang tak terkejar, mencari yang tak pernah sepenuhnya diketahui, dan menyingkap apa yang sebenarnya tak tersingkap.

Tapi hari itu saat liburan musim panas tiba,berkunjung ke kuil Budhist adalah hal yang paling kutunggu untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahuku tentang kebijaksanaan Budha dan sedikit teologinya langsung dari para biksu. Guru Lee byong hwei sudah mempersiapkan segalanya untuk perjalanan esok pagi. Dan liburan musim panas kali ini adalah liburan paling eksotis dan sangat berkesan, berguru pada para biksu.

Di sana, di kuil Naksansa saya saya terhipnotis untuk melihat dari dekat aktivitas peribadatan para biksu. Dari siang, sore, malam, hanya menjelang subuh saja yang terlewatkan karena badan tak kuat menahan kantuk lelah. Capek, padahal saya hanya jeprat jepret memphoto aktivitas ibadah mereka. Tak heran bila teman China yang atheis tapi iseng ikut beribadah sekembali ke pondokan 'misuh misuh' karena dengkulnya lecet setelah bolak balik sujud di depan patung Budha ratusan kali.

Tentu banyak hal yang didapat di sela sela ibadahnya, biksu Kang Sin Song sempat menyampaikan pengajarannya pada kami. Saat duduk duduk di taman, dinner dll. Mengagumkan ! Simaklah pendapatnya tentang Tuhan pada saya yang muslim .

Mendeskripsikan Tuhan, kata biksu Kang, bagi semua umat beragama adalah seperti cerita tentang gajah dan orang orang buta yang belum pernah melihat gajah tapi bicara tentang gajah berdasar pada bagian tubuh gajah yg dipegangnya.

Si buta A yang sedang memegang kepala gajah bilang,gajah adalah makhluk serupa batu gunung.
Si buta B yang memegang perut gajah bilang bahwa gajah adalah makhluk yang mirip bedug.
Si buta C yang memegang belalai bilang bahwa gajah adalah makhluk yang mirip ular.
Si buta D yang memegang kakinya bilang bahwa gajah adalah makhluk sejenis batang pohon.

"Kita adalah orang buta yang sedang bicara Tuhan",lanjutnya. Orang Budha mungkin sedang memegang kaki gajah, orang Hindu sedang memegang kepalanya, Kristen sedang bicara tentang kaki gajah.
"Dan kau seorang Muslim seharusnya mengira telah bicara gajah dari ujung buntut sampai belalainya," katanya terkekeh sambil menepuk pundakku.

"Setiap orang harus meyakini apa yang diyakini benar dan tidak menganggap semua agama benar,pasti hanya satu yang benar atau mungkin semua salah,"lanjutnya.

"Orang yang menyamakan semua agama dan menganggap semua orang menyembah Tuhan yang sama adalah orang yang ambivalen,munafik dan jangan jangan punya kepribadian ganda,split personality!". Benar, kita memang menyembah tuhan yang berbeda tapi semua makhluk di dunia hanya punya satu Tuhan.

"Hanya saja meskipun anda meyakini bahwa teologi anda paling benar, anda juga harus menghormati keyakinan teologi orang lain". Beliau juga mengucapkan rasa salutnya pada kami yang mau mendengar ajaran Budha meski kami adalah seorang muslim.

Sambil berjalan biksu Kang bertanya,"Lalu siapa yang paling beruntung antara kamu dan saya kini setelah anda berkunjung ke kuil kami ?" Saya menggeleng, beliau berhenti dan merangkul pundakku dengan tangan kanannya, lalu menjawabnya sendiri," Anda yang paling beruntung karena anda telah belajar tentang kristen, lalu islam dan kini anda banyak bertanya tentang budha."

Ach , saya jadi malu dan tak enak hati. "Tidak,tidak biksu saya tak ada apa apanya dibanding anda." Ingin saya segera melarikan diri dan bersembunyi karena malu dengan beliau.

Beliau berharap agar saya diberi ketetapan iman Islam dan menjadi muslim yang taat, meyakini gajah dengan benar. Tidak menyamakan semua agama,karena tiap agama memilih jalan yang berbeda pula.
Tidak menyamakan keyakinan teologi semua agama adalah sama karena masing masing memiliki deskripsi dan keyakinan tentang Tuhan yang berbeda sebagaimana orang buta yang memiliki keyakinan yang berbeda tentang gajah.

Konsep atau rumusan tentang Tuhan bukanlah Tuhan itu sendiri. Bahkan walau pun seorang teolog atau sufi pernah melihat wujud Tuhan sekali pun, ia tak akan pernah bisa membahasakannya. Ini bukan semata karena Tuhan adalah ujud yang tak-ter-bahasa-kan, tapi lebih karena bahasa sendiri tak pernah memadai, bahkan untuk membahasakan sebiji pulpen sekali pun.

Beliau bercerita pada akhir perjalanan kami,Alkisah, seorang master (ajaran) zen yang dianggap luar biasa sampai-sampai dijuluki Bodhisatva, namanya Shanhui, diminta memberikan ceramah oleh seorang kaisar dari Dinasti Wu. Ia lantas naik ke mimbar, lalu memukul meja, setelah itu pergi. Hanya begitu saja. Kaisar kebingungan. Disebut-sebut, Shanhui lantas bicara: “Tidakkah Paduka memahami jika saya telah selesai berbicara?”.

Setidaknya saya, setelah kunjungan ke kuil itu makin menambah keyakinan Islam seperti nasehat biksu Kang. Ya, sudah semestinya setiap umat beragama memiliki fanatisme terhadap apa yang diyakini tapi wajib menghormati umat lain yang berbeda keyakinan. LAKUM DINUKUM WALIYADIN,Jalan anda adalah jalan anda sedangkan jalanku adalah yang saya yakini benar .Saya tak menyembah apa yang anda sembah dan anda tak menyembah apa yang kami sembah,kita berbeda tapi dengan segela kerendahan hati saya tundukkan kepala penuh hormat pada anda ,biksu Kang! Terimakasih banyak atas keharmonisan yang anda ajarkan pada kami.

BIMOMUKTI THE SNOWMAN,SEOUL.

Selasa, 18 Mei 2010

daging babi dan seorang atheis



Saat makan malam di ruang makan pabrik,south korea...malam yang sial,hanya lauk mengandung daging babi terhidang di meja.Aku tahu ketua grup kami merasa tidak enak hati melihat kami hanya makan nasi dan air putih juga kimchi sekedar pemberi rasa pada lidah.Temanku menatap nanar semua hidangan di meja sambil bersungut, sedangkan aku komat kamit menyumpahi bibi tukang masak yang begitu kejam pada kami.


Pertanyaan yang sama berulang ditanyakan pada kami,"Mengapa Allah kamu melarang daging babi?" Dilanjutkan sebuah perintah dan pernyataan menjengkelkan,"Makanlah,Allah tidak ada di korea!".
Malam itu saya menjawab dengan serius ,tidak seperti biasanya yg saya jawab bahwa daging babi menjijikkan.Karena saya lihat ketua kami yang ini lembut dan halus tutur katanya.

Saya jawab bahwa bukan soal daging menjijikkan atau mengandung penyakit yang akan membuat kami sakit lalu cepat mati.Daging babi enak,lezat dan saya suka,karena saya dulu bukan seorang muslim hingga pernah menyantap daging itu.Tapi kami tidak memakanya karena memang Allah melarangnya dan kami tidak peduli mengapa!Allah hendak menguji siapa hambanya yang taat atas sebuah larangan.Dan kami ingin membuktikan bahwa kami mematuhi laranganNya.Ini adalah pernyataan cinta kami padaNya.Bahkan bila Allah melarang kami makan daging ayampun akan kami taati.

Dia,ketua grup kami tersenyum dan berkata,"Baiklah saya mengerti,tapi bila kau mencintai Tuhanmu dg mentaati larangannya mengapa kalian minum alkohol,berjudi,membunuh org tanpa hak dan pergi melacur bahkan diantara kalian memiliki selingkuhan dan berzina dgnya,bukankah hal2 itu juga dilarang..?"Kami tersentak dan serasa tiba-tiba perutku mual.Malam ini Allah telah mengirimkan seorang pengingat dan penyeru dari kalangan atheis kepada kami.Terus terngiang pertanyaan ketua kami yg belum bisa saya jawab...

penemuan kota kuno bawah laut


Peninggalan prasejarah kembali ditemukan di dasar laut. Di Kuba ditemukan kota kuno yang kira-kira berusia 600 tahun, juga di Semenanjung Gujarat yang diperkirakan berusia 9000 tahun. Asal-usul peradaban manusia semakin terungkap.

Pada Desember 2001, sebuah penemuan baru di Kuba telah menyajikan bukti yang lebih jauh untuk kebudayaan prasejarah. Di bawah ini adalah berita baru yang bersumber dari berita Reuters, 12 Desember 2001
Dengan Menggunakan Robot Kapal Selam untuk menjelajah dasar laut Kuba, para peneliti mengemukakan bahwa pada mereka telah menemukan beberapa struktur-struktur bebatuan yang mungkin telah dikonstruksi oleh peradaban kuno yang tidak diketahui ribuan tahun lalu.

Ahli-ahli dari Perusahaan Penjelajah Kanada mengatakan bahwa selama musim panas, mereka mendokumentasikan puing-puing dari "Kota yang Hilang" dibawah permukaan air pantai Guaanahacibabes Peninsula, disebelah barat pulau. Setelah memperingatkan bahwa sifat penemuan mereka tidak seluruhnya dapat dipahami, pemimpin ekspedisi mengatakan bahwa mereka akan kembali di bulan Januari untuk mengadakan penelitian lebih lanjut. "Ini adalah sebuah stuktur yang mengagumkan yang mungkin merupakan suatu pusat kota yang besar", ujar Paulina Zelitsky, ahli kelautan Kanada dari perusahaan Advance Digital Communication (ADC). Peneliti menunjukkan bahwa struktur misterius tersebut kemungkinan besar telah dibangun paling tidak sekitar 6000 tahun yang lalu (1.500 tahun sebelum piramida pertama di Giza, Mesir).

Pada bulan Juli 2000, peneliti ADC menggunakan peralatan sonar mengindentifikasikan sebuah dasar di kedalaman 650 meter, yang tersusun secara simetris dari batu-batuan, menyerupai sebuah layout kota dilapisi oleh pasir, yang secara jelas terlihat. ''Dari atas, stuktur-struktur tersebut terlihat seperti piramid, jalan dan bangunan-bangunan,'' imbuh Paulina.

Satu tahun kemudian, pada bulan Juli 2001, tim ADC, rekan Paulina dari Kuba dan ahli-ahli dari akademi Ilmu Pengetahuan Kuba kembali ke area tersebut dengan menggunakan kapal laut bernama Ulises dan mengirimkan robot kapal selam, yang dikendalikan oleh remote control untuk mendokumentasikan bagian-bagian dari area seluas 20 meter persegi. Hasilnya menunjukkan adanya blok-blok besar dari granit yang berbentuk formasi melingkar dan tegak lurus. Sebagian dari blok-blok tersebut, mempunyai panjang dua sampai lima meter, tidak terlapisi oleh apapun. Yang lainnya dilapisi oleh sedimen dan pasir putih.

Menurut para peneliti, penemuan yang membangkitkan minat ini menyajikan bukti bahwa Kuba kemungkinan besar mempunyai hubungan dengan Yucatan Peninsula oleh garis daratan. "Ada banyak teori baru tentang pergerakan daratan dan kolonisasi dan apa yang kita lihat disini menyajikan banyak informasi-informasi baru yang menarik,'' jelas Zelitsky.

Para arkeolog ilmu kelautan telah menemukan suatu tempat bersejarah dari kebudayaan kuno di Teluk Khambhat di Semenanjung Gujarat, berdekatan dengan semenanjung barat India. Diperkirakan memiliki riwayat sejarah 9000 tahun dan beberapa ribu tahun lebih lama dibanding kota kuno yang pernah diketemukan oleh manusia sebelumnya. Demikian diberitakan radio BBC London, 16 Januari 2002.

Lokasi itu ditemukan secara tidak sengaja ketika para ilmuwan kelautan dari Institut Nasional Teknik Kelautan sedang melakukan uji coba tingkat pencemaran air di area tersebut. Peralatan uji coba mereka menerima tanda-tanda asing, dan mereka memasang 2 buah peralatan sonar dengan sensitifitas tinggi di samudra guna menemukan sumber tanda-tanda asing tersebut.

Tanpa disangka-sangka, mereka menemukan lokasi bersejarah kota kuno ini, 9000 m2, membentang di pantai. Artifak yang ditemukan oleh anggota riset di dasar samudra meliputi gigi manusia yang sudah tidak lengkap lagi, tulang hewan, potongan peninggalan dari kayu dan keramik. Mineral karbon yang ada menunjukkan bahwa artifak tersebut diperkirakan telah ada sejak 9000 tahun yang silam. Gambar lokasi bersejarah memperlihatkan adanya tangga, kamar mandi, dan pura di sana.

Orang-orang menganggap kota terkuno yang pernah dibangun manusia adalah kota yang dibangun di lembah antara 2 sungai di Mesopotamia, antara 4000 - 3500 SM, sementara kebudayaan di lembah Sungai Indus berusia sekitar 2500 SM. Penemuan baru di Samudra India ini telah menyanggah anggapan tersebut. Para arkeolog berpendapat bahwa kebudayaan tersebut kemungkinan adalah kebudayaan pra-sejarah, yang tidak dikenal sama sekali oleh umat manusia sekarang.

Dengan penemuan-penemuan arkeologis pada jaman prasejarah tersebut, pengertian manusia akan asal-usul umat manusia dan sejarah manusia sedikit demi sedikit mulai berubah. Beberapa teori, yang telah diterima secara luas bahkan sampai hari ini, seperti misalnya Teori Evolusi Darwin, terbukti tidak dapat menjelaskan penemuan ini. Sekarang saatnya membuka mata dan memahami diri kita sendiri dan dunia ini, dengan cara pandang yang baru.Masih percaya teori Darwin??

Rabu, 08 April 2009

ramalan jayabaya


Iki sing dadi tandane zaman kalabendu
1. Lindu ping pitu sedina
2. Lemah Lemah bengkah
3. Manungsa pating galuruh, akeh kang nandang lara
4. Pagebluk rupa-rupa
5. Mung setitik sing mari akeh-akehe pada mati

Zaman kalabendu iku wiwit yen,

1. Wis ana kreta mlaku tanpa jaran
2. Tanah jawa kalungan wesi
3. Prau mlaku ing nduwur awang-awang
4. Kali ilang kedunge
5. Pasar ilang kumandange
6. Wong nemoni wolak-walik ing zaman
7. Jaran doyan sambel
8. Wong wadon menganggo lanang


Zaman kalabendu iku koyo-koyo zaman kasukan, zaman kanikmatan donya, nanging zaman iku sabenere zaman ajur lan bubrahing donya.

1. Mulane akeh bapak lali anak
2. Akeh anak wani ngalawan ibu lan nantang bapak
3. Sedulur pada cidro cinidro
4. Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang kaprawirane
5. Akeh wong lanang ora duwe bojo
6. Akeh wong wadon ora setia karo bojone
7. Akeh ibu pada ngedol anake
8. Akeh wong wadon ngedol awake
9. Akeh wong ijol bojo
10. Akeh udan salah mangsa
11. Akeh prawan tuwa
12. Akeh randa ngalairake anak
13. Akeh jabang bayi nggoleki bapake
14. Wong wodan ngalamar wong lanang
15. Wong lanang ngasorake, drajate dewe
16. Akeh bocah kowar
17. Randa murah regane
18. Randa ajine mung sak sen loro
19. Prawan rong sen loro
20. Dudo pincang payu sangang wong

Zamane zaman edan
1. Wong wadon nunggang jaran
2. Wong lanang lungguh plengki
3. Wong bener tenger-tenger
4. Wong salah bungah-bungah
5. Wong apik ditampik-tampik
6. Wong bejat munggah pangkat
7. Akeh ndandhang diunekake kuntul
8. Wong salah dianggap benerr
9. Wong lugu kebelenggu
10. Wong mulya dikunjara
11. Sing culika mulya, sing jujur kojur
12. Para laku dagang akeh sing keplanggrang
13. Wong main akeh sing ndadi
14. Linak lija lingga lica, lali anak lali baja, lali tangga lali kanca
15. Duwit lan kringet mug dadi wolak-walik kertu
16. Kertu gede dibukake, ngguyu pating cekakak
17. Ning mulih main kantonge kempes
18. Krungu bojo lan anak nangis ora di rewes


Abote kaya ngapa sa bisa-bisane aja nganti wong kelut,keliring zaman kalabendu iku.

Amargo zaman iku bakal sirna lan gantine joiku zaman ratu adil, zaman kamulyan. Mula sing tatag, sing tabah, sing kukuh, jo kepranan ombyak ing zaman Entenana zamane kamulyan zamaning ratu adil.PIYE HOROHHH......